September 30, 2010

Migdad Bin 'Amr ( Orang Pertama yang Memacu Kuda )

Para sahabat menjuluki sahabat Rasul yang satu ini sebagai orang yang biasanya paling pertama memacu kudanya maju dalam medan perang dan pemberani dalam berjuang di jalan Allah. Sahabat yang mendapat julukan tersebut adalah Miqdad bin al-Aswad. Penisbatan nama tersebut karena beliau pernah menjadi anak angkat dari seorang bernama al-Aswad 'Abdi Yaghuts. Nama Miqdad bin at-Aswad tersemat terus dalam dirinya sampai turunnya ayat yang menghapus status hukum anak angkat. Allah SWT berfirman: 
"Dia tidak menjadikan anak-anak angkat kamu sebagai anak kandungmu, yang demikian itu (hanyalah) perkataan kamu dari mulut kamu. Dan Allah berkata yang sebenar-benarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggilah mereka dengan nama ayah-ayah mereka, itulah yang lebih adil disisi Allah" (QS.Al-Ahzaab, 33:4-5)
Setelah turunnya ayat ini maka nama beliau dinisbatkan kepada ayah kandungnya yang bernama 'Amr bin Sa'ad. Hal demikian pernah terjadi dalam diri Rasulullah Saw terhadap Zaid bin Haritsah.

Miqdad bin 'Amr termasuk kelompok yang pertama masuk Islam, konon beliau urutan ketujuh yang memproklamirkan secara terang-terangan pada zamannya. Karenanya, beliau pernah merasakan siksaan dari orang-orang musyrikin pada waktu itu. Satu hal yang tidak bisa di lupakan oleh para sahabat dari diri Miqdad, sehingga selalu menjadi kenangan terutama sikapnya saat menjelang perang Badar. Sikapnya inilah yang membuat seorang sahabat yang sangat terkenal, Abdullah bin Mas'ud yakni sahabat dekat Rasul menyatakan: "Saya pemah menyaksikan Miqdad menjelang perang Badar dengan kegigihannya berjuang di jalan Allah, hal tersebut membuat saya mencintai Miqdad melebihi cinta saya kepada dunia dan segala isinya". Maksud Abudullah bin Mas'ud, tentu saja setelah cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya maka yang ketiga adalah Miqdad.

Terungkap dalam sejarah, bahwa perang Badar merupakan perang antara hidup dan mati bahkan lebih dominan terbayang matinya daripada hidupnya. Ketika itu orang-orang musyrikin telah menyiapkan segala sesuatunya untuk perang menghadapi orang-orang mu'min dengan semangat yang menggelora untuk menghabisi kekuatan umat Islam dalam sekejap. Jika dilihat dari segi jumlah, kemampuan, peralatan dan keahlian perang wajar mereka punya keyakinan seperti itu.

Menghadapi situasi perang yang sangat luar biasa ini Rasulullah Saw mencoba untuk menguji keimanan para sahabatnya, apakah mereka siap menghadapi kekuatan musuh. Rasul mengajak beberapa sahabat bermusyawarah. Sikap beliau ini sesuai perintah Allah dalam firman-Nya: 
"Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam sesuatu urusan" (QS. AH Imran, 3:159). Juga dalam firman-Nya: "Sedang urusan mereka (adalah) dengan musyawarah antara mereka" (QS. Asy Syuuraa, 42:38). Menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kita untuk menghargai pendapat orang lain. Bahkan Rasul pun diriwayatkan pernah meminta pandangan kepada seorang Yahudi perihal strategi perang.

Dalam diri Miqdad sempat timbul kekhawatiran melihat kondisi umat Islam yang terlalu hati-hati menghadapi peperangan, maka beliau pun bermaksud ingin menyampaikan "orasi" pembangkit semangat umat Islam agar tidak gentar. Tetapi belum lagi kedua bibirnya begerak untuk menyampaikan orasinya tersebut, beliau sudah didahului oleh Abu Bakar Ash Shidiq dan Umar bin Khathab yang menyampaikan orasinya membakar semangat umat Islam pada waktu itu. Dalam orasinya Umar menyatakan: "Andaikata bukan karena keyakinan kita bahwa Allah pasti akan membela dan menolong kita, siapa di antara kalian yang siap masuk ke medan perang?" Mendengar orasi tersebut Miqdad semakin bersyukur, karena pernyataan Umar telah membangkitkan semangat umat Islam saat itu. Hal ini harusnya menjadi prinsip hidup kita ketika kita menghadapi suatu masalah dan kita yakin benar menurut Allah, maka tidak ada alasan bagi kita untuk takut menghadapi kekuatan lawan, sebaliknya jika kita pada posisi yang salah menurut Allah maka menghadapi siapa pun kita harus takut karena pasti Allah bersama pihak yang benar.

Setelah Umar bin Khathab maka giliran Miqdad menyampaikan orasinya: "Ya Rasulullah, laksanakan apa yang Allah telah perintahkan kepadamu untuk menghadapi orang-orang musyrikin, maka kami akan bersamamu." 
"Demi Allah, kami tidak akan pemah mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Bani Israil kepada Nabi Musa, pergilah engkau bersama Tuhanmu, maka berperanglah kamu berdua sesungguhnya kami duduk di sini (menanti)" (QS.Al Maidah, 5:24). 
Tetapi kami akan menyatakan kepadamu Ya Rasulullah, pergilah engkau bersama Tuhanmu berperanglah dan kami akan bersamamu untuk berperang. Demi yang telah mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau mengajak kami untuk mengarungi lautan luas niscaya kami akan mengarunginya bersamamu, dan kami akan berperang melawan orang musyrikin itu balk berada di sebelah kanan atau sebelah kirimu, di depan atau di belakangmu, sampai Allah memberikan kemenangan kepadamu".

Digambarkan oleh para sahabat ucapannya tersebut meluncur dengan kalimat-kalimat semangat menggelora bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya. Rasul menyambut ucapan Miqdad dengan wajah berseri-serti seraya berdoa sehingga terdengar oleh sahabat di sebelahnya beliau mendoakan keselamatan bagi Miqdad.

Orasi Miqdad disambut oleh Sa'ad dan Mu'adz, dengan menyatakan: "Ya Rasulullah, sungguh kami telah mengimani ajaran yang telah engkau bawa dan kami telah bersyahadat di hadapan Allah, bahwa ajaran yang engkau bawa itu adalah sebuah kebenaran dan kami telah berikan kepadamu janji setia kami, maka lakukan apa yang seharusnya engkau lakukan dan kami pasti bersama engkau, Demi yang telah yang mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau ajak kami mengarungi lautan kami akan arungi lautan itu bersamamu, saya jamin tidak akan pernah ada seorang pun yang mundur dari perang ini, tidak akan pernah ada seorang pun yang khianat terhadapmu, dan tidak ada sedikit pun rasa takut kami untuk menghadapi musuh besok hari". Rasulullah Saw menyambut dengan rasa kebahagiaan melihat semangat sahabat seperti itu kemudian beliau berkata kepada para sahabat: "Mari kita berangkat menuju medan perang, besarkan Jiwa dan hati kalian dalam menghadapi musuh-musuh Allah SWT".

Maka bertemulah dua kekuatan yang sangat tidak seimbang. Pasukan ummat Islam yang berkuda hanya tiga orang, yaitu Martsad bin Abi Martsad, Zubair bin Awwam dan Miqdad bin 'Amr, selebihnya pasukan berjalan kaki. Di sinilah Allah membuktikan bahwa yangg menentukan kemenangan adalah Allah SWT. Jangankan perbandingan 1:3 jika Allah menghendaki 1:10 pun dapat mencapai kemenangan (OS. Al Anfaal, 8:65). Tentu tidak lepas dari usaha maksimal untuk rnempersiapkan segala sesuatunya dalam peperangan (QS. Al Anfaal, 8:60).

Diriwayatkan suatu ketika Miqdad diangkat oleh Rasul menjadi Amir pemimpin di sebuah wilayah dan ketika usai masa jabatannya beliau kembali pulang, Nabi bertanya: "Apa hikmah yang kamu dapatkan sebagai Amir?" Jawab Miqdad: "Jabatan yang engkau berikan kepadaku telah mengantarkan aku untuk melihat diriku jauh lebih mulia dari orang yang kupimpin, jabatan telah mengantarkan aku menganggap diriku adalah orang yang terbaik yang termulia sementara masyarakat yang kupimpin semua berada di bawahku. Demi yang telah mengutus engkau dengan kebenaran aku bersumpah atas nama Allah, aku tidak akan pernah mau menjadi pemimpin untuk kedua kalinya walaupun hanya untuk memimpin dua orang".

Menurut Miqdad, jabatan telah mengantarkannya sebagai orang yang sombong, orang yang merasa dirinya lebih dibanding orang lain. Seorang manusia yang tidak pemah bisa menipu dirinya akan menyadari tentang kelemahan dirinya bahwa jabatan telah mengantarkan dirinya untuk menjadi orang yang merasa istimewa dibanding orang lain. Padahal, menurut Miqdad tidak ada seorang sahabat pun yang penah minta diistimewakan.

Prinsip hidup Miqdad inilah yang menyebabkan beliau selalu mendendangkan hadits Rasulullah Saw, yang menyatakan: "Manusia yang berbahagia di dunia dan akhirat adalah manusia yang dijauhkan dari fitnah". Beliau melihat bahwa jabatan tersebut sebagai fitnah yang telah mengantarkan dirinya merasa diri lebih dari yang lain, maka beliau berusaha menjauhi semua fitnah. Inilah sebuah pelajaran berharga yang diajarkan oleh Rasul. Demikian pula Miqdad senantiasa ingat akan pesan Rasulullah Saw: "Bahwa hati setiap manusia bisa cepat berubah lebih cepat berubahnya dibanding sesuatu yang sedang mendidih dalam periuk". Hati manusia cepat berubah termasuk mengubah idealismenya. Satu kelebihan Miqdad lainnya, beliau tidak pernah mau menilai seseorang kecuali sampai yang bersangkutan diambang sakaratul rnaut, khawatir yang bersangkutan berubah di akhir hayatnya. Jika beliau ditanya tentang pendapatnya terhadap si fulan maka beliau tidak mau berkomentar.

Pada kisah lain, suatu ketika para sahabat sedang duduk-duduk bersama Miqdad, tiba-tiba lewatlah seorang laki-laki, lalu dia berkata kepada Miqdad: "Berbahagialah kedua matamu Wahai Miqdad karena dua matamu pemah melihat Rasulullah Saw. Demi Allah, seandainya kami bisa melihat seperti engkau melihat Rasulullah, tentu kami pun akan berbahagia seperti engkau merasakannya". Kemungkinan yang bersangkutan orang yang tidak pernah melihat Rasul dan tidak hidup sezaman dengan Rasul, Pernyataan sahabat tersebut dinafikan oleh Miqdad: "Hendaknya seseorang di antara kalian tidak berangan-angan untuk menyaksikan yang memang Allah ghaibkan untuk dia, sementara dia tidak tahu andaikata dia menyaksikan apa yang akan terjadi dengan dirinya". Dalam hal ini Migdad ingin mengingatkan bahwa tidak semua orang yang hidup bersama Rasul akhirnya menjadi orang-orang yang mulia di sisi Allah. Contohnya, Abu Jahal dan Abu Lahab. Maka Rasul mengatakan: "Orang yang tidak pernah berjumpa denganku, lalu dia mengikuti sunnahku seperti para sahabat yang mengikuti sunnahku maka orang itu lebih mulia disisi Allah".
Akhir kisahnya, gambaran pribadi seorang Miqdad digambarkan oleh para sahabatnya sangat luar biasa cinta beliau kepada Islam, cinta beliau kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta beliau kepada dirinya sendiri. Dampak dari cintanya beliau kepada Rasul membuat beliau setiap kali mendengar berita yang tidak menyenangkan yang menimpa diri Rasul, maka beliau segera naik ke atas kudanya lalu memecutnya dengan keras agar segera bisa sampai di depan rumah Rasul, dengan pedang terhunus beliau siap menjaga apa pun yang akan dapat menciderai Rasul. Beliau juga punya prinsip dan semboyan yang selalu disenandungkan: "Saya tidak ingin mati sebelum saya melihat Islam itu agung". Itulah cita-cita dan keinginan Miqdad bin 'Amr, beliau wafat ketika Islam sudah agung di mata manusia. Keimanan dan kecintaan Miqdad seperti inilah yang akhirnya berujung dengan kemuliaan Miqdad disisi Allah seperti disampaikan Rasul yang membuat Miqdad sujud karenannya. Rasul menyampaikan kepada Miqdad: "Allah telah memerintahkan kepadaku untuk mencintaimu dan menyampaikan kepadamu bahwasanya Allah mencintaimu". Maka sujud syukurlah Miqdad karena dia telah berhasil dicintai Allah dan Rasul-Nya.

Wallah u a'lam bish-shawab.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites